CARA EFEKTIF MENGATASI KEBAKARAN HUTAN, LAHAN DAN KEBUN PADA TANAH-TANAH BERGAMBUT
EFEKTIF MENGATASI KEBAKARAN HUTAN, LAHAN DAN KEBUN PADA TANAH-TANAH BERGAMBUT Kebakaran hutan, lahan dan kebun seringkali terjadi. Dampak yang ditimbulkan sangat luas bagi manusia dan lingkungan hidup. Kerugian ekonomi, ekologi, kesehatan, dan aspek lainnya sudah pasti terjadi. Untuk melakukan pemulihan mebutuhkan waktu yang lama. Mencari penyebab terjadinya kebakaran hutan sangat sulit. Yang pasti, terjadinya kebakaran hutan karena ketamakan manusia. Hutan, lahan dan kebun dibakar. Latar belakang pembakaran sangat beragam. Ada karena ingin membuka lahan untuk dikuasai, ada karena kedengkian pada kebun tetangga yang sangat bagus, ijo royo-royo, ada karena kesengajaan, ada karena ingin jalan pintas menjadi kaya tanpa mau mengeluarkan duit yang banyak untuk membangun tananaman ekonomis dan berbagai sebab lainnya. Jika terjadi kebakaran, kita tanyakan siapa yang menyebabkan kebakaran ? Jawabnya sudah pasti tidak tahu. Tiada yang mau bertanggung jawab. Yang pasti kebakaran menyebabkan penderitaan. Seperti syair lagu Ebiet G. Ade : “Derita Dimata, Derita Dalam Jiwa. Siapakah, Pedulikan ………. Kepedulian menghadapi kebakaran sangat diperlukan oleh setiap orang. Tidak perduli apakah dia seorang Raja, Priyayi, Penguasa, Intelektual, Selebritis …….. Memaknai kepada setiap orang, untuk tidak berperilaku membakar hutan, lahan dan kebun sangat mulia. Kemuliaan sangat diperlukan oleh setiap orang, kemunafikan tentu dimurkai. Begitu saja?, kok!, repot. Ya, kerepotan karena kebakaran hutan sudah pasti terjadi. Buah hati yang sedang riang-riangnya bermain, harus terkurung dalam kamar atau diungsikan. Asap pekat menyapu setiap sudut. Napas seorang penderita penyakit Asma semakin pendek, mata Tukang Sate juga semakin perih. Kicau burung yang menyapa ditiap pagi, lenyap! Kapankah itu akan berakhir?. Semuanya bergantung kepada kita, Tuhan akan merestui kepada Umatnya yang selalu tidak letih berupaya. Memadamkan api di bumi, lebih baik. Ini amal kita untuk mengurangi siksaan api di neraka!.
BAGAIMANA CARA MENGENDALIKAN KEBAKARAN
Banyak cara untuk mengendalikan kebakaran. Contoh sederhana yang dapat dilakukan : “Jangan Membakar Sampah di Musim Kemarau”. Membersihkan kebun yang bersemak. Membersihkan lahan tidur yang dimiliki, tanam dengan tanaman yang bermanfaat. Sulit tumbuh, Mas? Tanam dengan Nenas atau Kelapa Sawit. TBS kelapa sawit sekarang sudah dibeli orang. Itu murah!. Lima tahun kedepan, so pasti, harganya sangat baik. Buat parit batas tanah yang jelas. Bagi kawan-kawan yang hoby memancing di hutan, jika membuat api pendiangan jangan ditinggalkan, padamkan. Aturlah perilaku kita untuk tidak menimbulkan terjadinya kebakaran hutan, lahan dan kebun secara berkesinambungan, selama kita masih diberi waktu oleh yang Disana.
CARA EFEKTIF MEMADAMKAN KEBAKARAN HUTAN, LAHAN DAN KEBUN
Kami sudah lakukan!!, mulai dari menggunakan Gayung, Ember, Baskom, Memukul dengan Kayu, Katir Bomtik, Semprot dengan Hitachi, Menggali Kawah Api di Gambut, Memanggil Pawang Hujan, Jelangkung dll. Tidak bisa!, letih saja, buang tenaga!. Enak tidur saja!. Kita tidak perlu pesimis dalam menghadapi kebakaran hutan, lahan dan kebun. Pasti ada cara terbaik untuk melakukannya. Tentu, harus efektif, ekonomis dan efesien.
PERLATAN YANG DIPERLUKAN
1. Mesin Pompa bertekanan tinggi untuk pencucian kendaraan/mobil merek Yuen Liang buatan Taiwan atau merek lain berikut dengan mesin penggerak. 2. Drum penampungan air, dapat diisi dengan air pompa Hitachi atau Ember. 3. Selang bertekanan yang dapat disambung secara praktis. Panjang selang 100 meter. 4. Tongkat penyemprot/Stik Semprot. 5. Masker Penahan Debu dan Asap. 6. Sepatu Both.
CARA KERJA PEMADAMAN API PADA HUTAN, LAHAN DAN KEBUN
1. Tentukan titik sasaran, dimana kebakaran terjadi. Selidiki, apakah lokasi tersebut sedang terjadi kebakaran atau telah lama terjadi kebakaran. Bila sedang terjadi kebakaran, ditemukan adanya api yang menyala-nyala. Dan bila bekas terjadinya kebakaran ditemukan kawah-kawah api yang dapat menenggelamkan kaki kita bila terinjak. Dampaknya kaki akan melepuh. 2. Persiapkan pompa bertekanan berikut drum air secara berdekatan. Isilah drum dengan air yang cukup dan berkelanjutan. 3. Pasanglah selang bertekanan sesuai keperluan. Bila lokasi kebakaran jauh, selang dapat disambung, hingga 5 (lima) sambungan atau sepanjang 500 meter. Keistimewaan selang ini adalah tidak mudah terlipat, tidak menyangkut apabila ditarik, tenaga yang diperlukan untuk menarik sangat ringan. 4. Pasanglah Tongkat Semprot/Stik Semprot. Apabila sedang terjadi kebakaran, aturlah stik semprot dengan cara mengabut. Kabut yang dibuat akan memadamkan api secara luas dan mengurangi panas yang menyengat. Bila memadamkan bekas kebakaran, aturlah stik dengan bentuk menembak. Air akan masuk ke dalam kawah hingga ke lapisan bawah, api akan padam segera. 5. Gunakan Sepatu Both dalam tiap-tiap kegiatan pemadaman. Sepatu Both mampu menahan panas pada kaki dan menghindari kaki mengalami pelepuhan oleh panas. 6. Untuk mengatasi gangguan pernapasan, gunakan Masker Standar. Asap dan debu dapat disaring, sehingga petugas pemadam dapat bertahan lama menghadapi api. 7. Saat melakukan pemadaman, di garis depan harus dilakukan secara bergantian. Aturlah waktu yang tepat, sehingga petugas di garis depan dapat bekerja dengan baik. 8. Fungsikan petugas pemantau dan penghubung yang menginformasikan kepada petugas pemadam, kapan maju atau mundur melakukan pemadaman. 9. Persiapkan air minum yang segar bagi petugas yang memerlukannya. 10. Persiapkan petugas gawat darurat jika diperlukan. 11. Kebakaran yang baru terjadi akan segera padam apabila dilakukan dengan pengabutan. Panas yang ditimbulkan berkurang karena butir-butir uap air yang ditembakan menyerap panas. Petugas yang bekerja pada lini depan dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama. Efektifitas pemadaman akan berlangsung baik. 12. Pemadaman kawah api pada lahan gambut bekas terjadinya kebakaran dilakukan dengan mengatur stik semprot seperti laju peluru. Air yang ditembakkan akan masuk pada kawah-kawah yang dalam dan akan memadamkan api secara baik.
KESIMPULAN
1. Pemadaman kebakaran pada hutan, lahan dan kebun dengan menggunakan Pompa Air Bertekanan Tinggi/Pompa Cucian Kendaraan/Mobil sangat baik dilakukan. Pompa bertekanan dapat memadamkan api dalam radius yang luas, air yang dikabutkan akan memadamkan api dan mengurangi panas yang ditimbulkan. 2. Dengan pompa bertekanan tinggi, air yang ditembakkan dapat menjangkau kawah-kawah api lahan gambut yang dalam sehingga kawah api yang terjadi dapat dipadamkan segera. 3. Untuk menuju titik sasaran kebakaran lebih mudah karena selang yang ditarik bentuknya ramping, ringan, tebal, tahan panas dan tidah mudah tersangkut onak dan duri yang ada dilokasi kebakaran. Dapat disambung-sambungkan sesuai keperluan. 4. Petugas yang mengoperasikan lebih mudah dan dapat terlindungi oleh kabut tirai air yang disemprotkan. Panas akibat kebakaran berkurang, efektifitas pemadaman meningkat. 5. Peralatan yang diangkut tidak terlalu banyak dan tidak terlalu berat.
SARAN TINDAK LANJUT
1. Harga peralatan Pompa Bertekanan Tinggi/Pompa Cucian Mobil tidak terlalu mahal. Pada saat musim kebakaran dapat difungsikan untuk memadamkan api. Pada saat musim tidak terbakar, dapat difungsikan untuk cucian kendaraan/mobil. Jika dibeli oleh keluarga yang memerlukan tidak mubazir. 2. Pemerintah hendaknya memfasilitasi masyarakat dengan peralatan Pemadaman Api yang diperlukan dengan menyediakan peralatan Pompa Bertekanan Tinggi/Pompa Cucian Kendaraan/Mobil pada lokasi-lokasi rawan bencana kebakaran. 3. Ada baiknya kita terapkan, karena kebakaran terjadi tidak menunggu hari esok. Karena semua itu dapat kita lakukan. Lanjutkan.Ya!, Kita Bisa.
GAMBAR PERALATAN PEMADAMAN API PADA HUTAN
, LAHAN DAN KEBUN MESIN POMPA AIR BERTEKANAN TINGGI MEREK YUEN LIANG BUATAN TAIWAN DAN MESIN PENGGERAK MEREK KOBOTA SELANG POMPA AIR BERTEKANAN YANG DAPAT DISAMBUNG DAN DITARIK SECARA MUDAH KE TITIK-TITIK SASARAN PEMADAMAN KEBAKARAN.
STIK SEMPROT PEMADAMAN API. STIK INI DAPAT DIATUR DENGAN MENGABUT ATAU DENGAN CARA MENEMBAK. SEPATU BOTH. SANGAT DIPERLUKAN PADA SAAT MELAKUKAN PEMADAMAN API DI LAHAN-LAHAN BERGAMBUT. MASKER STANDART UNTUK PEMADAMAN API.
ASAP DAN DEBU DAPAT TERSARING DENGAN BAIK BILA MENGGUNAKAN MASKER INI.
TEKNIS MENGOPERASIONALKAN POMPA BERTEKANAN. AIR DISEDOT DENGAN SELANG PENGISAP DARI DRUM, MESIN POMPA MENEMBAKAN AIR KE LOKASI KEBAKARAN DENGAN PIPA SAMBUNG BERTEKANAN TINGGI. AIR KELUAR DENGAN KERAS MELALUI STIK SEMPROT DAN MEMADAMKAN API. CARA MEMADAMKAN API PADA LAHAN TIDUR BEKAS KEBAKARAN.
AIR DITEMBAKAN PADA KAWAH-KAWAH API SAMPAI PADAM API MENGHAGUSKAN POKOK SAWIT DAN BERAKIBAT TUMBANG. TANAH GAMBUT MENJADI BERLOBANG. SAWIT TAHAN TERHADAP API. IA AKAN TUMBUH KEMBALI BARISAN TANAMAN KARET UMUR 2 TAHUN.
TERBAKAR OLEH API YANG MENJALAR KARENA HEMBUSAN ANGIN YANG DERAS.
TIDAK DAPAT DISELAMATKAN.
MENGAKIBATKAN KERUGIAN DAN PENDERITAAN. KARET INI AKAN MATI
Rabu, 08 Desember 2010
TIPs Mengatasi Kebakaran yang Terjadi
Filed under: tips by titikcerah — Leave a comment
January 20, 2009
i
1 Vote
Quantcast
Mengingat dekat-dekat ini setidaknya sudah dua kali jagoan merah melahap umpannya, sekiranya kita perlu tahu hal-hal yang harus dicermati dalam aksi tanggap dalam mengatasi kebakaran tersebut.
* Bila Anda sedang terjebak dalam kebakaran di Gedung Perkantoran
1. Berusahalah untuk tetap tenang. Hal ini wajib dilakukan dalam situasi apapun, dan dimanapun agar tindakan yang kita lakukan terarah dan tepat.
2. Bunyikan tanda kebakaran yang tersedia segera. Peringati masyarakat lain yang berada di dalam kantor tersebut.
3. Ikuti prosedur evakuasi yang terlah diterapkan bila ada.
4. Menuju ke tangga darurat, disarankan untuk tidak memakai lift. Penggunaan lift disaat keadaan darurat dapat menimbulkan gangguan saraf dan perhentian lift secara mendadak.
5. Bila terjebak asap berusahalah agar asap tidak masuk ke dalam organ pernafasan Anda. Bila asap sangat tebal, usahakan supaya posisi Anda serendah mungkin. Kain atau Tisu basah dapat digunakan untuk melindungi hidung Anda.
* Bila Anda sedang terjebak dalam kebakaran di dalam Rumah Tinggal:
1. Berusahalah untuk tetap tenang.
2. Evakuasi anggota keluarga dengan tanggap tapi tenang melalui bagian rumah yang aman.
3. Hubungi kantor Donas Pemadam Kebakaran setempat.
4. Bila Anda merasa yakin, gunakan pemadam api bila ada, atau gunakan air dari sumber terdekat, dengan tetap menjaga keselamatan diri dan sekitar.
Hal yang perlu diketahui juga apabila Anda telah terserang amukan api. Gunakanlah alat pemadam api dengan tata cara yang tertera.
Apabila pakaian yang Anda kenakan terbakar api, lakukan langkah-langkah berikut :
1. BERHENTI di tempat Anda berada.
2. Segera JATUHKAN DIRI Anda ke lantai.
3. BERGULING terus menerus sambil menutupi wajah dan mulut dengan telapak tangan – hal ini mencegah bagian wajah terbakar dan mencegah banyaknya asap yang masuk ke dalam hidung – bergulinglah sampai api padam.
4. Apabila api belum padam BALUTKAN KAIN BASAH kepada badan Anda.
5. DINGINKAN luka bakar dengan air selama 10-15 menit.
6. Bantuan paramedik sangat disarankan.
Penggunaan Alat Pemadam Api
Cara menggunakan Alat Pemadam Api Portable :
1. Perhatikan jenis pemadam, dari label yang tertera pada dinding tabung.
2. Cabut pen pengaman
3. Pegang tabung pengaman dengan kuat
4. Ambil jarak secukupnya lalu arahkan corong pemadam pada api yang akan dipadamkan.
5. Tekan tuas pembuka dan lakukan gerakan menyapu dari sisi ke sisi lain hingga api padam.
semoga tips ini bermanfaat :D
Filed under: tips by titikcerah — Leave a comment
January 20, 2009
i
1 Vote
Quantcast
Mengingat dekat-dekat ini setidaknya sudah dua kali jagoan merah melahap umpannya, sekiranya kita perlu tahu hal-hal yang harus dicermati dalam aksi tanggap dalam mengatasi kebakaran tersebut.
* Bila Anda sedang terjebak dalam kebakaran di Gedung Perkantoran
1. Berusahalah untuk tetap tenang. Hal ini wajib dilakukan dalam situasi apapun, dan dimanapun agar tindakan yang kita lakukan terarah dan tepat.
2. Bunyikan tanda kebakaran yang tersedia segera. Peringati masyarakat lain yang berada di dalam kantor tersebut.
3. Ikuti prosedur evakuasi yang terlah diterapkan bila ada.
4. Menuju ke tangga darurat, disarankan untuk tidak memakai lift. Penggunaan lift disaat keadaan darurat dapat menimbulkan gangguan saraf dan perhentian lift secara mendadak.
5. Bila terjebak asap berusahalah agar asap tidak masuk ke dalam organ pernafasan Anda. Bila asap sangat tebal, usahakan supaya posisi Anda serendah mungkin. Kain atau Tisu basah dapat digunakan untuk melindungi hidung Anda.
* Bila Anda sedang terjebak dalam kebakaran di dalam Rumah Tinggal:
1. Berusahalah untuk tetap tenang.
2. Evakuasi anggota keluarga dengan tanggap tapi tenang melalui bagian rumah yang aman.
3. Hubungi kantor Donas Pemadam Kebakaran setempat.
4. Bila Anda merasa yakin, gunakan pemadam api bila ada, atau gunakan air dari sumber terdekat, dengan tetap menjaga keselamatan diri dan sekitar.
Hal yang perlu diketahui juga apabila Anda telah terserang amukan api. Gunakanlah alat pemadam api dengan tata cara yang tertera.
Apabila pakaian yang Anda kenakan terbakar api, lakukan langkah-langkah berikut :
1. BERHENTI di tempat Anda berada.
2. Segera JATUHKAN DIRI Anda ke lantai.
3. BERGULING terus menerus sambil menutupi wajah dan mulut dengan telapak tangan – hal ini mencegah bagian wajah terbakar dan mencegah banyaknya asap yang masuk ke dalam hidung – bergulinglah sampai api padam.
4. Apabila api belum padam BALUTKAN KAIN BASAH kepada badan Anda.
5. DINGINKAN luka bakar dengan air selama 10-15 menit.
6. Bantuan paramedik sangat disarankan.
Penggunaan Alat Pemadam Api
Cara menggunakan Alat Pemadam Api Portable :
1. Perhatikan jenis pemadam, dari label yang tertera pada dinding tabung.
2. Cabut pen pengaman
3. Pegang tabung pengaman dengan kuat
4. Ambil jarak secukupnya lalu arahkan corong pemadam pada api yang akan dipadamkan.
5. Tekan tuas pembuka dan lakukan gerakan menyapu dari sisi ke sisi lain hingga api padam.
semoga tips ini bermanfaat :D
Tips Membuat Karya Tulis Ilmiah Menulis Karya Ilmiah Sebelum mulai menulis, sadari betul bahwa tujuan penulisan adalah memberi ilmu atau minimal informasi yang diharapkan berguna bagi pembaca. Karena itu, renungkan betul manfaat bagi pembaca kalimat demi kalimat yang kita tuliskan. Kalimat/paragraf yang dimulai dengan rangkaian kata “Sebagaimana kita ketahui bersama…” bisa dipastikan tidak ada manfaatnya bagi pembaca. Buat apa ditulis kalau sudah diketahui bersama. Pada dasarnya tidak ada salahnya mengungkap pengetahuan bersama tersebut, asal disadari betul fungsinya sebagai dasar pengantar alur logika untuk pengumkapan hal-hal yang hendak dikemukakan. Seberapa Panjang? Meskipun kadang disebutkan dalam panduan penulisan laporan tugas akhir (skripsi, thesis, desertasi), jumlah halaman hanya lah merupakan petunjuk tentang kedalaman dan keluasan materi yang dikehendaki. Pada umumnya tidak ada ketentuan baku dari jumlah halaman naskah tulisan tugas akhir. Pembatasan jumlah halaman yang kaku hanya masuk akal pada penerbitan berkala tertentu yang memang secara fisik ada pembatasan ukuran. Bisa saja kita menulis tugas akhir 20-40 halaman, namun bila memang banyak yang hendak disampaikan, beberapa ratusan halaman pun tidak masalah. Kuncinya sama, pastikan tiap kalimat berguna bagi pembaca. Kenali Target Pembaca Untuk memaksimalkan manfaat tulisan bagi pembaca, kita perlu membuat asumsi tingkat pengetahuan target pembaca tulisan itu. Untuk tugas akhir, cukup aman mengasumsikan target pembacanya adalah sesama mahasis dari jurusan yang sama di seluruh dunia. Kelebihan kita dari pembaca ada pada aktivitas penelitian yang dilakukan. Kita melakukannya, target pembaca tulisa kita melakukan penelitian lain. Selain itu, kita membaca bahan pustaka pada bidang kajian tugas yang bersangkutan lebih banyak dari sidang pebaca naskah tugas akhir yang kita buat. Bahasa: Aspek Terpenting Karya Tulis Sambil praktek menulis, kita bisa mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Di negeri berbahasa Inggris, para mahasiswa biasa kesana kemari membawa kamus Inggris-Inggris. Sangat boleh jadi, warga negera Indonesia juga memerlukan kamus Indonesia-Indonesia, Sempatkan membelinya. Tidak ada ruginya untuk memiliki Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pastikan setiap kalimat yang kita tuliskan mengandung subyek dan predikat secara lengkap. Bila tidak ahli betul, hindari penulisan kalimat kompleks. Jarang ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan kalimat yang dimulai dengan kata sambung. Sebagai latihan, coba lengkapi kalimat berikut ini. “Dengan diberlakukannya undang-undang informasi dan transaksi elektronik……..” “Apabila angin lesus itu terjadi lagi pada musim penghujan yang datang terlambat tahun ini….. “ Perhatikan betul penggunaan tanda baca. Kita sangat bergantung pada tanda baca sebagai pengganti intonasi pada bahasa percakapan. Tidak ada spasi setelah tanda kurung buka. Tidak ada spasi sebelum tanda kurung tutup, titik, koma, tanda seru, titik dua, titik koma, dan tanda tanya. Sepintas, aturan ini tidak meninbulkan masalah, namun sesekali bila diabaikan kita akan menemukan tanda tanya, seru atau kurung tutup pada awal baris. Janggal bukan? Jangan takut mengadopsi kata-kata asing secara langsung. Aturan main Bahasa Indonesia yang perlu diingat betul saat mengadopsi kata asing adalah kesesuaian antara tulisan dan bacaan. Kata “computer” dan “memory” bisa langsung digunakan dengan penyesuaian penulisan menjadi “komputer” dan “memori” yang dapat dibaca seperti kata-kata dalam bahasa Indonesia yang lain. Sistematika Penulisan Secara umum karya tulis ilmiah terbagi dalam 4 bagian: pendahuluan, pokok, hasil, dan penutup. Pendahuluan memuat hal-hal yang menjadi alasan dilakukannya kegiatan ilmiah yang dilaporkan dalam tulisan tersebut. Pendahuluan memuat studi pustaka yang mengungkap laporan-laporan kegiatan ilmiah terdahulu yang berkaitan dengan topik serupa. Dari uraian studi pustaka diharapkan dapat disusun suatu ungkapan tentang hal menarik yang bakal terungkap apabila dilakukan penelitian lebih lanjut. Ungkapan semacam ini resminya disebut hipotesa. Bagian pokok karya tulis memuat rencana kerja kegiatan penelitian untuk mengungkap kebenaran hipotesa. Untuk mempertanggungjawabkan kegiatan, perlu dituliskan landasan teori yang menghubungkan pernyataan-pernyataan pendukung kebenaran hipotesa dengan hasil-hasil kegiatan penelitian. Pelaksanaan kegiatan ilmiah dilaporkan di bagian hasil dari karya tulis. Segala yang dilakukan, urut-urutannya, peralatannya dan data-data yang dihasilkan disampaikan di bagian ini. Prinsip manfaat tetap berlaku. Artinya tabel-tabel panjang yang membosankan harus diolah dulu sedemikian hingga bisa tampil dalam angka-angka/grafik yang mudah difahami dengan rujukan ke data lengkap yang disertakan sebagai lampiran. Di bagian hasil ini pula data-data tersebut dibahas. Penutup sering diisi dengan kesimpulan dan saran. Di naskah-naskah laporan tugas akhir yang pernah saya baca, banyak dijumpai bab kesimpulan yang secara kurang tepat diisi dengan ringkasan baik dari bahan bacaan studi pustakan dan landasan teori maupun dari pokok penelitian. Kesimpulan bukan ringkasan. Tuliskan kesimpulan pada bab kesimpulan. Kesimpulan adalah ungkapan yang hanya bisa disampaikan setelah dilakukan suatu kegiatan penelitian. Untuk menguji layak tidaknya suatu uangkapan masuk dalam daftar kesimpulan, andaikan penelitian yang bersangkutan tidak dilakukan. Apabila ungkapan tersebut masih memiliki nilai kebenaran tanpa melihat hasil-hasil penelitian maka bisa dipastikan itu bukan kesimpulan. Kalau isinya bersifat ringkasan, buat saja sub bab ringkasan pada bab penutup. Saran di bab penutup ditujukan pada mereka yang berminat untuk nemeruskan lebih jauh penelitian yang bersangkutan. Saran pada industri atau institusi tempat penelitian lebih cocok ditempatkan pada sub bab kesimpulan. Proposal Cara penulisan proposal penelitian tidak berbeda dengan penulisan laporannya kecuali pada bab hasil dan penutup. Untuk proposal, bab hasil diganti dengan bab rencana kerja yang berisi jadwal dan komponen pembiayaan; bab penutup diisi dengan janji-janji keuntungan yang bakal diperoleh apabila penelitian tersebut dilaksanakan. Selain itu, pada proposal belum ada halaman abstract atau intisari. Intisari Halaman intisari (terjemahan dari abstract) berisi tiga bagian yang bisa dituangkan dalam satu atau tiga paragraph tergantung pada kemampuan kita mengungkapkan abstraksi dari semua aspek kegiatan penelitian yang bersangkutan. Bagian pertama intisari mencerminkan isi bab pendahuluan, bagian kedua mewakili bab pokok dan bagian ketiga mewakili bab hasil dan penutup. Coba saja mulai dengan membuat ringkasan pendahuluan, pokok dan hasil/penutup tanpa memperhatikan ukurannya. Teliti kalimat demi kalimat, gabung-gabungkan menjadi kalimat-kalimat dalam jumlah yang lebih sedikit. Lakukan terus sampai panjang intisari mencapa ukuran yang kita kehendaki, yakni tidak lebih dari satu halaman. Karya Perancangan dan/atau Pengembangan Banyak orang berpendapat bahwa karya perancangan atau pengembangan sistem tidak dapat dilakukan dan dilaporkan sebagaimana karya penelitian ilmiah pada umumnya. Saya tidak setuju. Apabila dilaksanakan sebagai kerja tugas akhir program pendidikan S1, S2, atau S3, kerja perancangan atau pengembangan sistem harus dilaksanakan dan disajikan sebagaimana pelaksanaan dan penyajian penelitian ilmuah pada umumnya. Yang dirasa sulit pada kegiatan perancangan atau pengembangan sistem ada pada pengungkapan hipotesa. Kalau kita simak kembali pada ide bahwa hipotesa merupakan ungkapan hal baru yang cukup menarik ditelaah kebenararannya makan kita bisa memperkirakan hal baru apa yang muncul dari hasil rancangan atau pengembangan sistem tersebut.
Tips Membuat Karya Tulis Ilmiah Menulis Karya Ilmiah Sebelum mulai menulis, sadari betul bahwa tujuan penulisan adalah memberi ilmu atau minimal informasi yang diharapkan berguna bagi pembaca. Karena itu, renungkan betul manfaat bagi pembaca kalimat demi kalimat yang kita tuliskan. Kalimat/paragraf yang dimulai dengan rangkaian kata “Sebagaimana kita ketahui bersama…” bisa dipastikan tidak ada manfaatnya bagi pembaca. Buat apa ditulis kalau sudah diketahui bersama. Pada dasarnya tidak ada salahnya mengungkap pengetahuan bersama tersebut, asal disadari betul fungsinya sebagai dasar pengantar alur logika untuk pengumkapan hal-hal yang hendak dikemukakan. Seberapa Panjang? Meskipun kadang disebutkan dalam panduan penulisan laporan tugas akhir (skripsi, thesis, desertasi), jumlah halaman hanya lah merupakan petunjuk tentang kedalaman dan keluasan materi yang dikehendaki. Pada umumnya tidak ada ketentuan baku dari jumlah halaman naskah tulisan tugas akhir. Pembatasan jumlah halaman yang kaku hanya masuk akal pada penerbitan berkala tertentu yang memang secara fisik ada pembatasan ukuran. Bisa saja kita menulis tugas akhir 20-40 halaman, namun bila memang banyak yang hendak disampaikan, beberapa ratusan halaman pun tidak masalah. Kuncinya sama, pastikan tiap kalimat berguna bagi pembaca. Kenali Target Pembaca Untuk memaksimalkan manfaat tulisan bagi pembaca, kita perlu membuat asumsi tingkat pengetahuan target pembaca tulisan itu. Untuk tugas akhir, cukup aman mengasumsikan target pembacanya adalah sesama mahasis dari jurusan yang sama di seluruh dunia. Kelebihan kita dari pembaca ada pada aktivitas penelitian yang dilakukan. Kita melakukannya, target pembaca tulisa kita melakukan penelitian lain. Selain itu, kita membaca bahan pustaka pada bidang kajian tugas yang bersangkutan lebih banyak dari sidang pebaca naskah tugas akhir yang kita buat. Bahasa: Aspek Terpenting Karya Tulis Sambil praktek menulis, kita bisa mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Di negeri berbahasa Inggris, para mahasiswa biasa kesana kemari membawa kamus Inggris-Inggris. Sangat boleh jadi, warga negera Indonesia juga memerlukan kamus Indonesia-Indonesia, Sempatkan membelinya. Tidak ada ruginya untuk memiliki Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pastikan setiap kalimat yang kita tuliskan mengandung subyek dan predikat secara lengkap. Bila tidak ahli betul, hindari penulisan kalimat kompleks. Jarang ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan kalimat yang dimulai dengan kata sambung. Sebagai latihan, coba lengkapi kalimat berikut ini. “Dengan diberlakukannya undang-undang informasi dan transaksi elektronik……..” “Apabila angin lesus itu terjadi lagi pada musim penghujan yang datang terlambat tahun ini….. “ Perhatikan betul penggunaan tanda baca. Kita sangat bergantung pada tanda baca sebagai pengganti intonasi pada bahasa percakapan. Tidak ada spasi setelah tanda kurung buka. Tidak ada spasi sebelum tanda kurung tutup, titik, koma, tanda seru, titik dua, titik koma, dan tanda tanya. Sepintas, aturan ini tidak meninbulkan masalah, namun sesekali bila diabaikan kita akan menemukan tanda tanya, seru atau kurung tutup pada awal baris. Janggal bukan? Jangan takut mengadopsi kata-kata asing secara langsung. Aturan main Bahasa Indonesia yang perlu diingat betul saat mengadopsi kata asing adalah kesesuaian antara tulisan dan bacaan. Kata “computer” dan “memory” bisa langsung digunakan dengan penyesuaian penulisan menjadi “komputer” dan “memori” yang dapat dibaca seperti kata-kata dalam bahasa Indonesia yang lain. Sistematika Penulisan Secara umum karya tulis ilmiah terbagi dalam 4 bagian: pendahuluan, pokok, hasil, dan penutup. Pendahuluan memuat hal-hal yang menjadi alasan dilakukannya kegiatan ilmiah yang dilaporkan dalam tulisan tersebut. Pendahuluan memuat studi pustaka yang mengungkap laporan-laporan kegiatan ilmiah terdahulu yang berkaitan dengan topik serupa. Dari uraian studi pustaka diharapkan dapat disusun suatu ungkapan tentang hal menarik yang bakal terungkap apabila dilakukan penelitian lebih lanjut. Ungkapan semacam ini resminya disebut hipotesa. Bagian pokok karya tulis memuat rencana kerja kegiatan penelitian untuk mengungkap kebenaran hipotesa. Untuk mempertanggungjawabkan kegiatan, perlu dituliskan landasan teori yang menghubungkan pernyataan-pernyataan pendukung kebenaran hipotesa dengan hasil-hasil kegiatan penelitian. Pelaksanaan kegiatan ilmiah dilaporkan di bagian hasil dari karya tulis. Segala yang dilakukan, urut-urutannya, peralatannya dan data-data yang dihasilkan disampaikan di bagian ini. Prinsip manfaat tetap berlaku. Artinya tabel-tabel panjang yang membosankan harus diolah dulu sedemikian hingga bisa tampil dalam angka-angka/grafik yang mudah difahami dengan rujukan ke data lengkap yang disertakan sebagai lampiran. Di bagian hasil ini pula data-data tersebut dibahas. Penutup sering diisi dengan kesimpulan dan saran. Di naskah-naskah laporan tugas akhir yang pernah saya baca, banyak dijumpai bab kesimpulan yang secara kurang tepat diisi dengan ringkasan baik dari bahan bacaan studi pustakan dan landasan teori maupun dari pokok penelitian. Kesimpulan bukan ringkasan. Tuliskan kesimpulan pada bab kesimpulan. Kesimpulan adalah ungkapan yang hanya bisa disampaikan setelah dilakukan suatu kegiatan penelitian. Untuk menguji layak tidaknya suatu uangkapan masuk dalam daftar kesimpulan, andaikan penelitian yang bersangkutan tidak dilakukan. Apabila ungkapan tersebut masih memiliki nilai kebenaran tanpa melihat hasil-hasil penelitian maka bisa dipastikan itu bukan kesimpulan. Kalau isinya bersifat ringkasan, buat saja sub bab ringkasan pada bab penutup. Saran di bab penutup ditujukan pada mereka yang berminat untuk nemeruskan lebih jauh penelitian yang bersangkutan. Saran pada industri atau institusi tempat penelitian lebih cocok ditempatkan pada sub bab kesimpulan. Proposal Cara penulisan proposal penelitian tidak berbeda dengan penulisan laporannya kecuali pada bab hasil dan penutup. Untuk proposal, bab hasil diganti dengan bab rencana kerja yang berisi jadwal dan komponen pembiayaan; bab penutup diisi dengan janji-janji keuntungan yang bakal diperoleh apabila penelitian tersebut dilaksanakan. Selain itu, pada proposal belum ada halaman abstract atau intisari. Intisari Halaman intisari (terjemahan dari abstract) berisi tiga bagian yang bisa dituangkan dalam satu atau tiga paragraph tergantung pada kemampuan kita mengungkapkan abstraksi dari semua aspek kegiatan penelitian yang bersangkutan. Bagian pertama intisari mencerminkan isi bab pendahuluan, bagian kedua mewakili bab pokok dan bagian ketiga mewakili bab hasil dan penutup. Coba saja mulai dengan membuat ringkasan pendahuluan, pokok dan hasil/penutup tanpa memperhatikan ukurannya. Teliti kalimat demi kalimat, gabung-gabungkan menjadi kalimat-kalimat dalam jumlah yang lebih sedikit. Lakukan terus sampai panjang intisari mencapa ukuran yang kita kehendaki, yakni tidak lebih dari satu halaman. Karya Perancangan dan/atau Pengembangan Banyak orang berpendapat bahwa karya perancangan atau pengembangan sistem tidak dapat dilakukan dan dilaporkan sebagaimana karya penelitian ilmiah pada umumnya. Saya tidak setuju. Apabila dilaksanakan sebagai kerja tugas akhir program pendidikan S1, S2, atau S3, kerja perancangan atau pengembangan sistem harus dilaksanakan dan disajikan sebagaimana pelaksanaan dan penyajian penelitian ilmuah pada umumnya. Yang dirasa sulit pada kegiatan perancangan atau pengembangan sistem ada pada pengungkapan hipotesa. Kalau kita simak kembali pada ide bahwa hipotesa merupakan ungkapan hal baru yang cukup menarik ditelaah kebenararannya makan kita bisa memperkirakan hal baru apa yang muncul dari hasil rancangan atau pengembangan sistem tersebut.
Manusia purba Indonesia Manusia purba Indonesia adalah manusia purba yang berada di Indonesia. Ada tiga jenis manusia purba di Indonesia, yaitu: * Meganthropus Paleojavanicus * Pithecanthropus Erectus * Homo [sunting] Ciri–Ciri 1. Meganthropus Paleojavanicus * Memiliki tulang pipi yang tebal * Memiliki otot kunyah yang kuat * Memiliki tonjolan kening yang mencolok * Memiliki tonjolan belakang yang tajam * Tidak memiliki dagu * Memiliki perawakan yang tegap * Memakan jenis tumbuhan 2. Pithecanthropus * Tinggi badan sekitar 165 – 180 cm * Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc * Bentuk tubuh & anggota badan tegap, tetapi tidak setegap megantropus * Alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat * Bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat * Bentuk tonjolan kening tebal melintang di dahi dari sisi ke sisi * Bentuk hidung tebal * Bagian belakang kepala tampak menonjol menyerupai wanita berkonde * Muka menonjol ke depan, dahi miring ke belakang 3. Homo * Volume otaknya antara 1000 – 1200 cc * Tinggi badan antara 130 – 210 cm * Otot tengkuk mengalami penyusutan * Muka tidak menonjol ke depan * Berdiri tegak dan berjalan lebih sempurna [sunting] Hasil Budaya * Pithecanthropus Erectus 1. Kapak perimbas 2. Kapak penetak 3. Kapak gengam 4. Pahat gengam 5. Alat serpih 6. Alat-alat tulang * Homo 1. Kapak gengam / Kapak perimbas 2. Alat serpih 3. Alat-alat tulang Meganthropus Paleojavanicus * Memiliki tulang pipi yang teb
Perkembangbiakan Mahkluk Hidup Pada suatu hari, Leo berjalan-jalan di taman bersama keluarganya. Leo dan keluarganya sangat menikmati kegiatan tersebut. Selain menyehatkan tubuh, kegiatan tersebut dapat mempererat rasa kekeluargaan. Leo selalu bertanya pada orangtuanya, jika ada yang tidak ia pahami. Ketika sampai di suatu kolam, Leo bertanya, Bu, bagaimana bebek berkembang biak? Mengapa bebek tidak dapat melahirkan seperti Ibu? Kedua orangtua Leo tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Kemudian, ayahnya menjawab, Bebek tidak dapat melahirkan seperti manusia, tetapi bebek bertelur untuk menghasilkan anak-anaknya. Bagaimana dengan pohon pisang, dengan cara apakah pohon pisang berkembang biak?Leo bertanya lagi. Mendengar pertanyaan tersebut, ayahnya menyarankan Leo untuk membaca buku IPA mengenai Perkembangbiakan Makhluk Hidup.
Silakan baca: Permintaan pribadi dari pendiri Wikipedia Jimmy Wales Close Fotosintesis Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Daun, tempat berlangsungnya fotosintesis pada tumbuhan. Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari.[1] Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi.[1] Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi.[1] Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos berarti cahaya) disebut sebagai fototrof.[1] Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi.[1] Cara lain yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah bakteri belerang.[1] Daftar isi [sembunyikan] * 1 Sejarah * 2 Pigmen o 2.1 Kloroplas * 3 Fotosistem * 4 Fotosintesis pada tumbuhan * 5 Fotosintesis pada alga dan bakteri * 6 Proses o 6.1 Reaksi terang o 6.2 Reaksi gelap + 6.2.1 Siklus Calvin-Benson + 6.2.2 Siklus Hatch-Slack * 7 Faktor penentu laju fotosintesis * 8 Lihat pula * 9 Referensi * 10 Pranala luar [sunting] Sejarah Meskipun masih ada langkah-langkah dalam fotosintesis yang belum dipahami, persamaan umum fotosintesis telah diketahui sejak tahun 1800-an.[2] Pada awal tahun 1600-an, seorang dokter dan ahli kimia, Jan van Helmont, seorang Flandria (sekarang bagian dari Belgia), melakukan percobaan untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan massa tumbuhan bertambah dari waktu ke waktu.[2] Dari penelitiannya, Helmont menyimpulkan bahwa massa tumbuhan bertambah hanya karena pemberian air.[2] Namun, pada tahun 1727, ahli botani Inggris, Stephen Hales berhipotesis bahwa pasti ada faktor lain selain air yang berperan. Ia mengemukakan bahwa sebagian makanan tumbuhan berasal dari atmosfer dan cahaya yang terlibat dalam proses tertentu.[2] Pada saat itu belum diketahui bahwa udara mengandung unsur gas yang berlainan.[1] Pada tahun 1771, Joseph Priestley, seorang ahli kimia dan pendeta berkebangsaan Inggris, menemukan bahwa ketika ia menutup sebuah lilin menyala dengan sebuah toples terbalik, nyalanya akan mati sebelum lilinnya habis terbakar.[3] Ia kemudian menemukan bila ia meletakkan tikus dalam toples terbalik bersama lilin, tikus itu akan mati lemas. Dari kedua percobaan itu, Priestley menyimpulkan bahwa nyala lilin telah "merusak" udara dalam toples itu dan menyebabkan matinya tikus.[3] Ia kemudian menunjukkan bahwa udara yang telah “dirusak” oleh lilin tersebut dapat “dipulihkan” oleh tumbuhan.[3] Ia juga menunjukkan bahwa tikus dapat tetap hidup dalam toples tertutup asalkan di dalamnya juga terdapat tumbuhan.[3] Pada tahun 1778, Jan Ingenhousz, dokter kerajaan Austria, mengulangi eksperimen Priestley.[4] Ia memperlihatkan bahwa cahaya matahari berpengaruh pada tumbuhan sehingga dapat "memulihkan" udara yang "rusak".[5] Ia juga menemukan bahwa tumbuhan juga 'mengotori udara' pada keadaan gelap sehingga ia lalu menyarankan agar tumbuhan dikeluarkan dari rumah pada malam hari untuk mencegah kemungkinan meracuni penghuninya.[5] Akhirnya di tahun 1782, Jean Senebier, seorang pastor Perancis, menunjukkan bahwa udara yang “dipulihkan” dan “merusak” itu adalah karbon dioksida yang diserap oleh tumbuhan dalam fotosintesis.[1] Tidak lama kemudian, Theodore de Saussure berhasil menunjukkan hubungan antara hipotesis Stephen Hale dengan percobaan-percobaan "pemulihan" udara.[1] Ia menemukan bahwa peningkatan massa tumbuhan bukan hanya karena penyerapan karbon dioksida, tetapi juga oleh pemberian air.[1] Melalui serangkaian eksperimen inilah akhirnya para ahli berhasil menggambarkan persamaan umum dari fotosintesis yang menghasilkan makanan (seperti glukosa).[6] [sunting] Pigmen Struktur kloroplas: 1. membran luar 2. ruang antar membran 3. membran dalam (1+2+3: bagian amplop) 4. stroma 5. lumen tilakoid (inside of thylakoid) 6. membran tilakoid 7. granum (kumpulan tilakoid) 8. tilakoid (lamella) 9. pati 10. ribosom 11. DNA plastida 12. plastoglobula Proses fotosintesis tidak dapat berlangsung pada setiap sel, tetapi hanya pada sel yang mengandung pigmen fotosintetik.[7] Sel yang tidak mempunyai pigmen fotosintetik ini tidak mampu melakukan proses fotosintesis.[7] Pada percobaan Jan Ingenhousz, dapat diketahui bahwa intensitas cahaya mempengaruhi laju fotosintesis pada tumbuhan.[5] Hal ini dapat terjadi karena perbedaan energi yang dihasilkan oleh setiap spektrum cahaya.[5] Di samping adanya perbedaan energi tersebut, faktor lain yang menjadi pembeda adalah kemampuan daun dalam menyerap berbagai spektrum cahaya yang berbeda tersebut.[5] Perbedaan kemampuan daun dalam menyerap berbagai spektrum cahaya tersebut disebabkan adanya perbedaan jenis pigmen yang terkandung pada jaringan daun.[5] Di dalam daun terdapat mesofil yang terdiri atas jaringan bunga karang dan jaringan pagar.[8] Pada kedua jaringan ini, terdapat kloroplas yang mengandung pigmen hijau klorofil.[8] Pigmen ini merupakan salah satu dari pigmen fotosintesis yang berperan penting dalam menyerap energi matahari.[8] [sunting] Kloroplas Hasil mikroskop elektron dari kloroplas Kloroplas terdapat pada semua bagian tumbuhan yang berwarna hijau, termasuk batang dan buah yang belum matang.[9] Di dalam kloroplas terdapat pigmen klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis.[10] Kloroplas mempunyai bentuk seperti cakram dengan ruang yang disebut stroma.[9] Stroma ini dibungkus oleh dua lapisan membran.[9] Membran stroma ini disebut tilakoid, yang didalamnya terdapat ruang-ruang antar membran yang disebut lokuli.[9] Di dalam stroma juga terdapat lamela-lamela yang bertumpuk-tumpuk membentuk grana (kumpulan granum).[9] Granum sendiri terdiri atas membran tilakoid yang merupakan tempat terjadinya reaksi terang dan ruang tilakoid yang merupakan ruang di antara membran tilakoid.[9] Bila sebuah granum disayat maka akan dijumpai beberapa komponen seperti protein, klorofil a, klorofil b, karetonoid, dan lipid.[11] Secara keseluruhan, stroma berisi protein, enzim, DNA, RNA, gula fosfat, ribosom, vitamin-vitamin, dan juga ion-ion logam seperti mangan (Mn), besi (Fe), maupun perak (Cu).[8] Pigmen fotosintetik terdapat pada membran tilakoid.[8] Sedangkan, pengubahan energi cahaya menjadi energi kimia berlangsung dalam tilakoid dengan produk akhir berupa glukosa yang dibentuk di dalam stroma.[8] Klorofil sendiri sebenarnya hanya merupakan sebagian dari perangkat dalam fotosintesis yang dikenal sebagai fotosistem.[8] [sunting] Fotosistem Fotosistem adalah suatu unit yang mampu menangkap energi cahaya matahari yang terdiri dari klorofil a, kompleks antena, dan akseptor elektron.[8] Di dalam kloroplas terdapat beberapa macam klorofil dan pigmen lain, seperti klorofil a yang berwarna hijau muda, klorofil b berwarna hijau tua, dan karoten yang berwarna kuning sampai jingga.[8] Pigmen-pigmen tersebut mengelompok dalam membran tilakoid dan membentuk perangkat pigmen yang berperan penting dalam fotosintesis.[12] Klorofil a berada dalam bagian pusat reaksi.[13] Klorofil ini berperan dalam menyalurkan elektron yang berenergi tinggi ke akseptor utama elektron.[13] Elektron ini selanjutnya masuk ke sistem siklus elektron.[13] Elektron yang dilepaskan klorofil a mempunyai energi tinggi sebab memperoleh energi dari cahaya yang berasal dari molekul perangkat pigmen yang dikenal dengan kompleks antena.[12] Fotosistem sendiri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fotosistem I dan fotosistem II.[12] Pada fotosistem I ini penyerapan energi cahaya dilakukan oleh klorofil a yang sensitif terhadap cahaya dengan panjang gelombang 700 nm sehingga klorofil a disebut juga P700.[14] Energi yang diperoleh P700 ditransfer dari kompleks antena.[14] Pada fotosistem II penyerapan energi cahaya dilakukan oleh klorofil a yang sensitif terhadap panjang gelombang 680 nm sehingga disebut P680.[15] P680 yang teroksidasi merupakan agen pengoksidasi yang lebih kuat daripada P700.[15] Dengan potensial redoks yang lebih besar, akan cukup elektron negatif untuk memperoleh elektron dari molekul-molekul air.[8] [sunting] Fotosintesis pada tumbuhan Tumbuhan bersifat autotrof.[4] Autotrof artinya dapat mensintesis makanan langsung dari senyawa anorganik.[4] Tumbuhan menggunakan karbon dioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Energi untuk menjalankan proses ini berasal dari fotosintesis. Perhatikan persamaan reaksi yang menghasilkan glukosa berikut ini: 6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa dan dapat pula digunakan sebagai bahan bakar.[4] Proses ini berlangsung melalui respirasi seluler yang terjadi baik pada hewan maupun tumbuhan.[4] Secara umum reaksi yang terjadi pada respirasi seluler berkebalikan dengan persamaan di atas.[4] Pada respirasi, gula (glukosa) dan senyawa lain akan bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbon dioksida, air, dan energi kimia.[4] Tumbuhan menangkap cahaya menggunakan pigmen yang disebut klorofil.[4] Pigmen inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil terdapat dalam organel yang disebut kloroplas.[4] klorofil menyerap cahaya yang akan digunakan dalam fotosintesis.[4] Meskipun seluruh bagian tubuh tumbuhan yang berwarna hijau mengandung kloroplas, namun sebagian besar energi dihasilkan di daun.[4] Di dalam daun terdapat lapisan sel yang disebut mesofil yang mengandung setengah juta kloroplas setiap milimeter perseginya.[4] Cahaya akan melewati lapisan epidermis tanpa warna dan yang transparan, menuju mesofil, tempat terjadinya sebagian besar proses fotosintesis.[4] Permukaan daun biasanya dilapisi oleh kutikula dari lilin yang bersifat anti air untuk mencegah terjadinya penyerapan sinar matahari ataupun penguapan air yang berlebihan.[4] [sunting] Fotosintesis pada alga dan bakteri Alga terdiri dari alga multiseluler seperti ganggang hingga alga mikroskopik yang hanya terdiri dari satu sel.[16] Meskipun alga tidak memiliki struktur sekompleks tumbuhan darat, fotosintesis pada keduanya terjadi dengan cara yang sama.[16] Hanya saja karena alga memiliki berbagai jenis pigmen dalam kloroplasnya, maka panjang gelombang cahaya yang diserapnya pun lebih bervariasi.[16] Semua alga menghasilkan oksigen dan kebanyakan bersifat autotrof.[16] Hanya sebagian kecil saja yang bersifat heterotrof yang berarti bergantung pada materi yang dihasilkan oleh organisme lain.[16] [sunting] Proses Hingga sekarang fotosintesis masih terus dipelajari karena masih ada sejumlah tahap yang belum bisa dijelaskan, meskipun sudah sangat banyak yang diketahui tentang proses vital ini.[17] Proses fotosintesis sangat kompleks karena melibatkan semua cabang ilmu pengetahuan alam utama, seperti fisika, kimia, maupun biologi sendiri.[17] Pada tumbuhan, organ utama tempat berlangsungnya fotosintesis adalah daun.[17] Namun secara umum, semua sel yang memiliki kloroplas berpotensi untuk melangsungkan reaksi ini.[18] Di organel inilah tempat berlangsungnya fotosintesis, tepatnya pada bagian stroma.[17] Hasil fotosintesis (disebut fotosintat) biasanya dikirim ke jaringan-jaringan terdekat terlebih dahulu.[17] Pada dasarnya, rangkaian reaksi fotosintesis dapat dibagi menjadi dua bagian utama: reaksi terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi memerlukan karbon dioksida).[19] Reaksi terang terjadi pada grana (tunggal: granum), sedangkan reaksi gelap terjadi di dalam stroma.[19] Dalam reaksi terang, terjadi konversi energi cahaya menjadi energi kimia dan menghasilkan oksigen (O2).[19] Sedangkan dalam reaksi gelap terjadi seri reaksi siklik yang membentuk gula dari bahan dasar CO2 dan energi (ATP dan NADPH).[19] Energi yang digunakan dalam reaksi gelap ini diperoleh dari reaksi terang.[19] Pada proses reaksi gelap tidak dibutuhkan cahaya matahari. Reaksi gelap bertujuan untuk mengubah senyawa yang mengandung atom karbon menjadi molekul gula.[19] Dari semua radiasi matahari yang dipancarkan, hanya panjang gelombang tertentu yang dimanfaatkan tumbuhan untuk proses fotosintesis, yaitu panjang gelombang yang berada pada kisaran cahaya tampak (380-700 nm).[19] Cahaya tampak terbagi atas cahaya merah (610 - 700 nm), hijau kuning (510 - 600 nm), biru (410 - 500 nm) dan violet (< 400 nm).[20] Masing-masing jenis cahaya berbeda pengaruhnya terhadap fotosintesis.[20] Hal ini terkait pada sifat pigmen penangkap cahaya yang bekerja dalam fotosintesis.[20] Pigmen yang terdapat pada membran grana menyerap cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu.[20] Pigmen yang berbeda menyerap cahaya pada panjang gelombang yang berbeda.[20] Kloroplas mengandung beberapa pigmen. Sebagai contoh, klorofil a terutama menyerap cahaya biru-violet dan merah.[20] Klorofil b menyerap cahaya biru dan oranye dan memantulkan cahaya kuning-hijau. Klorofil a berperan langsung dalam reaksi terang, sedangkan klorofil b tidak secara langsung berperan dalam reaksi terang.[20] Proses absorpsi energi cahaya menyebabkan lepasnya elektron berenergi tinggi dari klorofil a yang selanjutnya akan disalurkan dan ditangkap oleh akseptor elektron.[13] Proses ini merupakan awal dari rangkaian panjang reaksi fotosintesis. [sunting] Reaksi terang Reaksi terang dari fotosintesis pada membran tilakoid Reaksi terang adalah proses untuk menghasilkan ATP dan reduksi NADPH2.[21] Reaksi ini memerlukan molekul air dan cahaya matahari. Proses diawali dengan penangkapan foton oleh pigmen sebagai antena.[21] Reaksi terang melibatkan dua fotosistem yang saling bekerja sama, yaitu fotosistem I dan II.[22] Fotosistem I (PS I) berisi pusat reaksi P700, yang berarti bahwa fotosistem ini optimal menyerap cahaya pada panjang gelombang 700 nm, sedangkan fotosistem II (PS II) berisi pusat reaksi P680 dan optimal menyerap cahaya pada panjang gelombang 680 nm.[22] Mekanisme reaksi terang diawali dengan tahap dimana fotosistem II menyerap cahaya matahari sehingga elektron klorofil pada PS II tereksitasi dan menyebabkan muatan menjadi tidak stabil.[22] Untuk menstabilkan kembali, PS II akan mengambil elektron dari molekul H2O yang ada disekitarnya. Molekul air akan dipecahkan oleh ion mangan (Mn) yang bertindak sebagai enzim.[22] Hal ini akan mengakibatkan pelepasan H+ di lumen tilakoid. Dengan menggunakan elektron dari air, selanjutnya PS II akan mereduksi plastokuinon (PQ) membentuk PQH2.[22] Plastokuinon merupakan molekul kuinon yang terdapat pada membran lipid bilayer tilakoid. Plastokuinon ini akan mengirimkan elektron dari PS II ke suatu pompa H+ yang disebut sitokrom b6-f kompleks.[21] Reaksi keseluruhan yang terjadi di PS II adalah[22]: 2H2O + 4 foton + 2PQ + 4H- → 4H+ + O2 + 2PQH2 Sitokrom b6-f kompleks berfungsi untuk membawa elektron dari PS II ke PS I dengan mengoksidasi PQH2 dan mereduksi protein kecil yang sangat mudah bergerak dan mengandung tembaga, yang dinamakan plastosianin (PC).[22] Kejadian ini juga menyebabkan terjadinya pompa H+ dari stroma ke membran tilakoid.[22] Reaksi yang terjadi pada sitokrom b6-f kompleks adalah[22]: 2PQH2 + 4PC(Cu2+) → 2PQ + 4PC(Cu+) + 4 H+ (lumen) Elektron dari sitokrom b6-f kompleks akan diterima oleh fotosistem I.[22] Fotosistem ini menyerap energi cahaya terpisah dari PS II, tapi mengandung kompleks inti terpisahkan, yang menerima elektron yang berasal dari H2O melalui kompleks inti PS II lebih dahulu.[22] Sebagai sistem yang bergantung pada cahaya, PS I berfungsi mengoksidasi plastosianin tereduksi dan memindahkan elektron ke protein Fe-S larut yang disebut feredoksin.[22] Reaksi keseluruhan pada PS I adalah[22]: Cahaya + 4PC(Cu+) + 4Fd(Fe3+) → 4PC(Cu2+) + 4Fd(Fe2+) Selanjutnya elektron dari feredoksin digunakan dalam tahap akhir pengangkutan elektron untuk mereduksi NADP+ dan membentuk NADPH.[22] Reaksi ini dikatalisis dalam stroma oleh enzim feredoksin-NADP+ reduktase.[22] Reaksinya adalah[22]: 4Fd (Fe2+) + 2NADP+ + 2H+ → 4Fd (Fe3+) + 2NADPH Ion H+ yang telah dipompa ke dalam membran tilakoid akan masuk ke dalam ATP sintase.[1] ATP sintase akan menggandengkan pembentukan ATP dengan pengangkutan elektron dan H+ melintasi membran tilakoid.[1] Masuknya H+ pada ATP sintase akan membuat ATP sintase bekerja mengubah ADP dan fosfat anorganik (Pi) menjadi ATP.[1] Reaksi keseluruhan yang terjadi pada reaksi terang adalah sebagai berikut[1]: Sinar + ADP + Pi + NADP+ + 2H2O → ATP + NADPH + 3H+ + O2 [sunting] Reaksi gelap Reaksi gelap pada tumbuhan dapat terjadi melalui dua jalur, yaitu siklus Calvin-Benson dan siklus Hatch-Slack.[23] Pada siklus Calvin-Benson tumbuhan mengubah senyawa ribulosa 1,5 bisfosfat menjadi senyawa dengan jumlah atom karbon tiga yaitu senyawa 3-phosphogliserat.[23] Oleh karena itulah tumbuhan yang menjalankan reaksi gelap melalui jalur ini dinamakan tumbuhan C-3.[23] Penambatan CO2 sebagai sumber karbon pada tumbuhan ini dibantu oleh enzim rubisco.[23] Tumbuhan yang reaksi gelapnya mengikuti jalur Hatch-Slack disebut tumbuhan C-4 karena senyawa yang terbentuk setelah penambatan CO2 adalah oksaloasetat yang memiliki empat atom karbon. Enzim yang berperan adalah phosphoenolpyruvate carboxilase.[23] [sunting] Siklus Calvin-Benson Siklus Calvin-Benson Mekanisme siklus Calvin-Benson dimulai dengan fiksasi CO2 oleh ribulosa difosfat karboksilase (RuBP) membentuk 3-fosfogliserat.[23] RuBP merupakan enzim alosetrik yang distimulasi oleh tiga jenis perubahan yang dihasilkan dari pencahayaan kloroplas. Pertama, reaksi dari enzim ini distimulasi oleh peningkatan pH.[23] Jika kloroplas diberi cahaya, ion H+ ditranspor dari stroma ke dalam tilakoid menghasilkan peningkatan pH stroma yang menstimulasi enzim karboksilase, terletak di permukaan luar membran tilakoid.[23] Kedua, reaksi ini distimulasi oleh Mg2+, yang memasuki stroma daun sebagai ion H+, jika kloroplas diberi cahaya.[23] Ketiga, reaksi ini distimulasi oleh NADPH, yang dihasilkan oleh fotosistem I selama pemberian cahaya.[23] Fiksasi CO2 ini merupakan reaksi gelap yang distimulasi oleh pencahayaan kloroplas.[13] Fikasasi CO2 melewati proses karboksilasi, reduksi, dan regenerasi.[24] Karboksilasi melibatkan penambahan CO2 dan H2O ke RuBP membentuk dua molekul 3-fosfogliserat(3-PGA).[24] Kemudian pada fase reduksi, gugus karboksil dalam 3-PGA direduksi menjadi 1 gugus aldehida dalam 3-fosforgliseradehida (3-Pgaldehida).[24] Reduksi ini tidak terjadi secara langsung, tapi gugus karboksil dari 3-PGA pertama-tama diubah menjadi ester jenis anhidrida asam pada asam 1,3-bifosfogliserat (1,3-bisPGA) dengan penambahan gugus fosfat terakhir dari ATP.[24] ATP ini timbul dari fotofosforilasi dan ADP yang dilepas ketika 1,3-bisPGA terbentuk, yang diubah kembali dengan cepat menjadi ATP oleh reaksi fotofosforilasi tambahan.[24] Bahan pereduksi yang sebenarnya adalah NADPH, yang menyumbang 2 elektron.[24] Secara bersamaan, Pi dilepas dan digunakan kembali untuk mengubah ADP menjadi ATP.[24] Pada fase regenerasi, yang diregenerasi adalah RuBP yang diperlukan untuk bereaksi dengan CO2 tambahan yang berdifusi secara konstan ke dalam dan melalui stomata.[25] Pada akhir reaksi Calvin, ATP ketiga yang diperlukan bagi tiap molekul CO2 yang ditambat, digunakan untuk mengubah ribulosa-5-fosfat menjadi RuBP, kemudian daur dimulai lagi.[25] Tiga putaran daur akan menambatkan 3 molekul CO2 dan produk akhirnya adalah 1,3-Pgaldehida.[13] Sebagian digunakan kloroplas untuk membentuk pati, sebagian lainnya dibawa keluar.[13] Sistem ini membuat jumlah total fosfat menjadi konstan di kloroplas, tetapi menyebabkan munculnya triosafosfat di sitosol.[13] Triosa fosfat digunakan sitosol untuk membentuk sukrosa.[13][25] [sunting] Siklus Hatch-Slack Siklus Hatch-Slack Berdasarkan cara memproduksi glukosa, tumbuhan dapat dibedakan menjadi tumbuhan C3 dan C4.[26] Tumbuhan C3 merupakan tumbuhan yang berasal dari daerah subtropis.[26] Tumbuhan ini menghasilkan glukosa dengan pengolahan CO2 melalui siklus Calvin, yang melibatkan enzim Rubisco sebagai penambat CO2.[26] Tumbuhan C3 memerlukan 3 ATP untuk menghasilkan molekul glukosa.[26] Namun, ATP ini dapat terpakai sia-sia tanpa dihasilkannya glukosa.[27] Hal ini dapat terjadi jika ada fotorespirasi, di mana enzim Rubisco tidak menambat CO2 tetapi menambat O2.[27] Tumbuhan C4 adalah tumbuhan yang umumnya ditemukan di daerah tropis.[27] Tumbuhan ini melibatkan dua enzim di dalam pengolahan CO2 menjadi glukosa.[27] Enzim phosphophenol pyruvat carboxilase (PEPco) adalah enzim yang akan mengikat CO2 dari udara dan kemudian akan menjadi oksaloasetat.[27] Oksaloasetat akan diubah menjadi malat.[27] Malat akan terkarboksilasi menjadi piruvat dan CO2.[27] Piruvat akan kembali menjadi PEPco, sedangkan CO2 akan masuk ke dalam siklus Calvin yang berlangsung di sel bundle sheath dan melibatkan enzim RuBP.[27] Proses ini dinamakan siklus Hatch Slack, yang terjadi di sel mesofil.[28] Dalam keseluruhan proses ini, digunakan 5 ATP.[28] [sunting] Faktor penentu laju fotosintesis Proses fotosintesis dipengaruhi beberapa faktor yaitu faktor yang dapat mempengaruhi secara langsung seperti kondisi lingkungan maupun faktor yang tidak mempengaruhi secara langsung seperti terganggunya beberapa fungsi organ yang penting bagi proses fotosintesis.[1] Proses fotosintesis sebenarnya peka terhadap beberapa kondisi lingkungan meliputi kehadiran cahaya matahari, suhu lingkungan, konsentrasi karbondioksida (CO2).[1] Faktor lingkungan tersebut dikenal juga sebagai faktor pembatas dan berpengaruh secara langsung bagi laju fotosintesis.[29] Faktor pembatas tersebut dapat mencegah laju fotosintesis mencapai kondisi optimum meskipun kondisi lain untuk fotosintesis telah ditingkatkan, inilah sebabnya faktor-faktor pembatas tersebut sangat mempengaruhi laju fotosintesis yaitu dengan mengendalikan laju optimum fotosintesis.[29] Selain itu, faktor-faktor seperti translokasi karbohidrat, umur daun, serta ketersediaan nutrisi mempengaruhi fungsi organ yang penting pada fotosintesis sehingga secara tidak langsung ikut mempengaruhi laju fotosintesis.[30] Berikut adalah beberapa faktor utama yang menentukan laju fotosintesis[30] : 1. Intensitas cahaya Laju fotosintesis maksimum ketika banyak cahaya. 2. Konsentrasi karbon dioksida Semakin banyak karbon dioksida di udara, makin banyak jumlah bahan yang dapt digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis. 3. Suhu Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga batas toleransi enzim. 4. Kadar air Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, menghambat penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis. 5. Kadar fotosintat (hasil fotosintesis) Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila kadar fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan berkurang. 6. Tahap pertumbuhan Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang sedang berkecambah ketimbang tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan berkecambah memerlukan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh.
Langganan:
Postingan (Atom)